makalah puasa sunah : AYAT- AYAT AL-QUR’AN DAN AL HADIST PUASA SUNAH

  1. A.  AYAT- AYAT AL-QUR’AN DAN AL HADIST PUASA SUNAH

  • ayat alquran tentang puasa sunah

“ Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar”.

(QS.AL-Ahzab :35)

“Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji, yang melawat, yang ruku’, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat Munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu.”

QS. At-taubah :112)

“Jika Nabi menceraikan kamu, boleh Jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan isteri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertaubat, yang mengerjakan ibadat, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan.” (QS. At-tahrim : 5)

KEDUA, HADIST-HADIST

1. Dari Abu Huraih, Rosulullah bersabda :

“Semua amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa , maka ia untukKu dan aku yang akan membalasnya, puasa adalah perisai ( dari perbuatan maksiat ) dan apabila seseorang darimu tengah berpuasa, maka janganlah dia berkata kotor , berteriak dengan suara keras dan bila seorang mencelanya atau mengajaknya berkelahi, hendaknya ia mengatakan ,’ sesungguhnya aku sedang berpusa’ Demi Dzat yang jiwa muhammad di tangannya , sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi disisi Allah dari minyak kasturi . Orang yang berpuasa meraih dua kesenangan; bila ia berbuka ia merasa senang dan bila ia berjumpa dengan Rabbnya ia senang dengan puasanya.”

2. Dari Sahal bin Said dari Nabi beliau bersabda :

“Sesungguhya didalam surga ada sebuah pintu yang disebut dengan ar-Rayyan yang kelak pada hari kiamat akan dimasuki oleh orang-orang yang berpuasa dan tidak ada orang lain selain mereka yang memasukinya . Dikatakan ,’ mana orang-orang yang berpusa?’ mereka lalu bangun dan tak seorangpun yang masuk selain mereka. Ketika mereka telah masuk, pintunya dikunci sehingga tidak ada yang masuk selain mereka.”

3. Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah bersabda:

“Barang siapa menafkahkan dua harta kekayaannya di jalan Allah , maka ia akan di panggil dari pintu-pintu surga.’ Wahai hamba Allah ini adalah kebaikan ! ‘ Barang siapa termasuk orang-orang yang melakukan shalat, maka ia akan dipanggil dari pintu shalat, barang siapa termasuk orang-orang yang berjihad , maka ia akan dipanggil dari pintu jihad, barang siapa ternasuk orang-orang yang melakukan puasa, maka ia akan dipanggil dari pintu ar-Rayyan dan barang siapa termasuk orang-orang yang bershadaqah , maka ia akan dipanggil dari pintu shadaqah, lalu Abu Bakar berkata, bapakku dan ibuku sebagai tebusanmu wahai Rasulullah. Tidak seorang pun yang butuh dipanggil dari semua pintu – pintu itu.? ‘ Beliau menjawab ,’ ya ,ada dan aku berharap engkau termasuk dari mereka”.

4. Dari Abu Said al-Khudri ia berkata bahwa Rasulullah bersabda :

“ Tidaklah seorang hamba berpuasa satu hari di jalan Allah melainkan  Allah akan menjaukan wajahnya dengan puasanya itu dari api neraka selama tujuh puluh tahun”.

5. Dari Hudzaifah bin al-Yaman Rasulullah bersabda :

“ Fitnah( ujian ) yang menimpa seseorang pada istrinya , hartanya dan tetangganya akan dihapus oleh shalat, puasa, dan shadaqahnya.”

6. Dari Ibnu Mas’ud Rasulullah bersabda :

“ Barang siapa mampu menikah, menikahlah, karena menikah lebih mampu menahan pandangan dan menjaga kemaluan dan barang siapa tidak mampu , hendaknya ia berpuasa, karena puasa akan lebih mampu menahan nafsu syahwat.”

7. Abu Umamah al-Bahili Rasulullah bersabda :

“ Berpuasalah, karena puasa tidak ada tandinganya”.

Seputar Niat Puasa

Hukum Niat

Niat adalah rukun berpuasa sebagaimana pada seluruh ibadah. Nabi -Shallallahu alaihi wasallam- bersabda, “Sesungguhnya setiap amalan itu (syah atau tidaknya) tergantung dengan niatnya dan setiap orang akan mendapatkan apa yang dia niatkan.” (HR.Al-Bukhari dan Muslim dari Umar bin Al-Khaththab)

Niat dalam ibadah, baik wudhu, shalat, puasa dan selainnya tidak perlu dilafazhkan. Ibnu Taimiah -rahimahullah- berkata, “Mengucapkan niat (secara jahr) tidak diwajibkan dan tidak pula disunnahkan berdasarkan kesepakatan kaum muslimin.” (Majmu’ Al-Fatawa: 22/218-219) Dan dalam (22/236-237) beliau berkata, “Niat adalah maksud dan kehendak, sedangkan maksud dan kehendak tempatnya adalah di hati, bukan di lidah, berdasarkan kesepakatan orang-orang yang berakal. Walaupun dia berniat dengan hatinya (tanpa memantapkannya dengan ucapan, pen.), Maka niatnya syah menurut Imam Empat dan menurut seluruh imam kaum muslimin baik yang terdahulu maupun yang belakangan.” Maka sekedar bangunnya seseorang di akhir malam untuk makan sahur -padahal dia tidak biasa bangun di akhir malam-, itu sudah menunjukkan dia mempunyai maksud dan kehendak -dan itulah niat- untuk berpuasa.

Waktu Berniat

Diriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Ibnu Umar dan Hafshah -radhiallahu anhuma- bahwa keduanya berkata:“Barangsiapa yang tidak memalamkan niatnya sebelum terbitnya fajar maka tidak ada puasa baginya.” (HR. Abu Daud no. 2454, At-Tirmizi no. 730, An-Nasai (4/196), dan Ibnu Majah no. 1700)

Hadits ini disebutkan oleh sejumlah ulama mempunyai hukum marfu’, yakni dihukumi kalau Nabi yang mengucapkannya. Karena isinya merupakan sesuatu yang bukan berasal dari ijtihad dan pendapat pribadi.

Maka dari hadits ini jelas bahwa waktu niat adalah sepanjang malam sampai terbitnya fajar. Hadits ini juga menunjukkan wajibnya berniat dari malam hari dan tidak syahnya puasa orang yang berniat setelah terbitnya fajar. Ini adalah pendapat mayoritas Al-Malikiah, Asy-Syafi’iyah. dan Al-Hanabilah. Dan ini yang dikuatkan oleh Ibnu Qudamah, An-Nawawi, Ibnu Taimiah, Ash-Shan’ani dan Asy-Syaukani.

Pembatal Puasa Yang Disepakati

Sebelumnya perlu diketahui bahwa hukum asal dari seseorang yang telah berniat puasa, maka puasanya tetap syah dan tidak batal sampai ada dalil yang meyakinkan bahwa puasanya batal. Karenanya setiap orang yang mengklaim sesuatu itu pembatal puasa maka dia dituntut untuk mendatangkan dalil atas klaimnya. Jika dalilnya benar maka diterima dan jika tidak ada dalilnya maka klaimnya tertolak.

Juga penting untuk diketahui bahwa semua pembatal puasa yang akan kami sebutkan, baik yang disepakati maupun yang diperselisihkan, dia nanti membatalkan puasa jika yang melakukannya adalah orang yang: Sengaja, atas kehendak sendiri (tidak terpaksa), dan tahu kalau hal itu membatalkan puasa. Karenanya jika ada seseorang yang mengerjakan pembatal puasa, akan tetapi dia tidak sengaja atau karena dipaksa atau karena tidak mengetahui kalau itu pembatal puasa, maka puasanya tetap syah dan tidak ada dosa atasnya, sebagaimana yang akan datang rinciannya, wallahu a’lam. Lihat penjabaran dan penerapan kaidah ini dalam Ithaful Anam hal. 71-75, 101-102

Berikut beberapa pembatal puasa yang disepakati

1.    Makan dan Minum.

Keduanya membatalkan puasa jika dikerjakan dengan sengaja berdasarkan Al-Qur`an, As-Sunnah dan ijma’.

Allah Ta’ala berfirman, “Maka sekarang silakan kalian menyentuh mereka (istri kalian) dan carilah apa yang Allah telah tetapkan untuk kalian. Dan makan dan minumlah kalian hingga nampak benang putih dari benang hitam yaitu fajar.” (QS. Al-Baqarah: 187)

Adapun dari hadits, maka sabda Nabi   dalam hadits qudsi:

يَدَعُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِيْ

“Dia meninggalkan makanannya, minumannya, dan syahwatnya karena Aku.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

Ijma’ akan hal ini telah dinukil oleh sejumlah ulama, di antaranya: Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla (733), Ibnul Mundzir dalam Al-Isyraf dan Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni (3/14)

2.    Jima’ (melakukan hubungan intim)

Berdasarkan kedua dalil di atas serta ijma’ di kalangan ulama.

Ibnu Qudamah berkata dalam Al-Mughni (3/27), “Tidak ada perbedaan antara kalau kemaluannya itu adalah qubul maupun dubur, dari laki-laki maupun wanita, dan ini adalah pendapat Asy-Syafi’i.” An-Nawawi juga mengatakan dalam Al-Majmu’ (6/341-342), “Ucapan-ucapan Asy-Syafi’i serta teman-teman kami semuanya sepakat bahwa melakukan hubungan intim dengan wanita pada duburnya, liwath dengan anak kecil (sodomi) atau lelaki dewasa (homoseksual), itu hukumnya sama dengan melakukannya dengan wanita di qubulnya.”

An-Nawawi juga berkata dalam Al-Majmu’ (6/341), “Melakukan jima’ dengan zina atau yang semacamnya, atau nikah fasid, atau melakukannya dengan budaknya atau saudarinya atau anaknya, wanita kafir, dan wanita lainnya, semuanya sama dalam hal membatalkan puasa, wajibnya qadha, kaffarah, dan menahan diri pada sisa siangnya. Dan ini tidak ada perbedaan pendapat di dalamnya.”

Kami katakan: Kecuali pada pewajiban qadha`, karena padanya ada perbedaan pendapat sebagaimana yang akan disebutkan, dan yang benarnya itu tidak diwajibkan.

3.    Menelan ludah orang lain.

Imam An-Nawawi berkata dalam Al-Majmu’ (6/318), “Para ulama telah bersepakat bahwa jika seseorang menelan ludah orang lain maka dia telah berbuka.”

4.    Merokok.

Kami memasukkannya ke bagian ini karena kami tidak mengetahui adanya fatwa ulama lain selain dari fatwa Syaikh Ibnu Al-Utsaimin yang menyatakan merokok adalah pembatal puasa. Hal itu karena asapnya akan berubah menjadi cairan lalu melekat pada paru-paru seseorang. Karenanya paru-paru perokok biasanya berwarna hitam karena asap yang masuk.

Lihat Fatawa Ramadhan beliau (2/527-528)

Kami katakan: Dan juga karena rokok bisa memberikan ketahanan dan kekuatan bagi orang yang berpuasa sehingga kadang dia tidak merasakan lapar dan lelah, karenanya dia dihukumi sama dengan makan dan minum.

Seputar Berbuka Puasa

Menyegerakan Berbuka

Disunnahkan untuk menyegerakan buka puasa setelah yakin kalau matahari telah terbenam. Dari hadits Sahl bin Sa’ad  bahwa Nabi   bersabda:

لَا يَزَالُ اَلنَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا اَلْفِطْرَ

“Terus-menerus manusia berada dalama kebaikan selama mereka masih menyegerakan buka puasa.” (HR. Al-Bukhari no. 1757 dan Muslim no. 1098)

Dan dari Abu Hurairah secara marfu’, “Terus-menerus agama ini akan nampak selama manusia masih menyegerakan berbuka. Karena orang-orang Yahudi dan Nashrani mengakhirkannya.” (HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Syaikh Muqbil dalam Al-Jami’ Ash-Shahih: 2/420)

Al-Hafizh berkata dalam Al-Fath (1957), “Para ulama bersepakat bahwa waktu berbuka puasa adalah setelah pastinya matahari terbenam, baik dengan rukyat maupun dengan pengabaran dari dua orang yang adil, demikian halnya satu orang berdasarkan pendapat yang kuat.”

Ibnu Abdil Barr berkata dalam At-Tamhid (7/181), “Penyegeraan berbuka hanya dilakukan setelah diyakini terbenamnya matahari. Tidak boleh ada seorang pun yang berbuka dalam keadaan dia ragu apakah matahari sudah terbenam atau belum, karena sebuah kewajiban, jika dia wajib dengan keyakinan maka tidak boleh keluar darinya kecuali dengan keyakinan pula.”

Doa Berbuka Puasa

Sebelum berbuka puasa maka diwajibkan seseorang untuk membaca basmalah, berdasarkan keumuman hadits Umar bin Salamah riwayat Muslim tatkala Nabi   bersabda kepadanya:

يَا غُلاَمُ سَمِّ اللهَ وَكُلْ بِيَمِيْنِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيْكَ

“Wahai anak kecil, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari makanan yang terdekat denganmu.”

Adapun hadits:  اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ

“Ya Allah hanya untuk-Mu aku berpuasa dan dengan rezki-Mu aku berbuka.” (HR. Abu Daud no. 2358)

Maka dia diriwayatkan oleh Ad-Daraquthni dan dalam sanadnya ada Abdul Malik bin Harun bin Antarah yang dia meriwayatkan dari ayahnya. Sedangkan dia adalah matrukul hadits sementara ayahnya adalah rawi yang dhaif.

Diriwayatkan pula oleh Ath-Thabarani dalam Al-Ausath dan Ash-Shaghir, sedang dalam sanadnya ada Ismail bin Amr -dhaif- dan Daud bin Az-Zibriqan -rawi yang matruk-.

Adapun hadits Ibnu Umar secara marfu’:

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوْقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ

“Telah sirna dahaga, urat-urat telah basah dan pahala telah tetap insya Allah Ta’ala.” (HR. Abu Daud no. 2357)

Maka ada perbedaan di kalangan ulama belakangan dalam hukumnya. Asy-Syaikh Al-Albani menshahihkannya, sementara Asy-Syaikh Muqbil melemahkannya karena di dalam sanadnya ada Marwan bin Salim Al-Muqfi’. Al-Hafizh dalam At-Taqrib berkata tentangnya, “Maqbul,” dan istilah ini biasa beliau gunakan untul rawi yang majhul al-hal, wallahu a’lam.

Ala kulli hal, kalaupun haditsnya shahih, maka lahiriah hadits menunjukkan doa ini dibaca setelah menyantap buka puasa, bukan sebelumnya. Karena doa ini datang dalam bentuk fi’il madhi (keta kerja lampau), “Telah hilang dahaga, urat-urat telah basah,” sementara dahaga tidak mungkin hilang kecuali setelah minum, wallahu a’lam.

Disunnahkan memberi ifthar (buka puasa)

Berdasarkan hadits Zaid bin Khalid Al-Juhani bahwa Nabi   bersabda:

“Barangsiapa yang memberi makan buka puasa kepada orang yang berpuasa maka akan dituliskan untuknya pahala seperti pahalanya, hanya saja tidak dikurangi sedikit pun dari pahala orang yang berpuasa.” (HR. At-Tirmizi no. 807, An-Nasai dalam Al-Kubra: 2/256 dan Ibnu Majah no. 1746)

Seputar Adab-Adab Berpuasa

1.    Menjauhi semua bentuk maksiat.

Dari Abu Hurairah  bahwa Nabi   bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ اَلزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ, وَالْجَهْلَ, فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan dusta dan beramal dengannya serta kejahilan, maka Allah tidak butuh dia meninggalkan makanan dan minumannya.” (HR. Al-Bukhari no. 1903)

Ash-Shan’ani -rahimahullah- berkata dalam Subulus Salam (4/126), “Hadits ini merupakan dalil akan haramnya dusta dan beramal dengannya, serta menunjukkan haramnya orang yang berpuasa berbuat kejahilan. Kedua hal ini juga diharamkan atas orang yang tidak berpuasa, hanya saja keharamannya lebih kuat terkhusus bagi orang yang berpuasa, sebagaimana lebih kuatnya pengharaman zina atas seorang yang sudah tua dan pengharaman sombong atas orang yang fakir.”

2.    Membaca Al-Qur`an.

Allah Ta’ala berfirman, “Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).” (QS. Al-Baqarah: 185) Dan juga Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Qur`an) pada lailatul qadr.” (Al-Qadr: 1)

Karenanya sudah sepantasnya seorang muslim menghabiskan waktunya di dalam bulan ramadhan untuk membaca Al-Qur`an, baik di dalam shalat maupun di luar shalat.

3.    Banyak bersedekah.

Dari Ibnu Abbas dia berkata:

“Rasulullah   adalah orang yang paling dermawan, dan saat dimana beliau menjadi lebih dermawan dari biasanya adalah pada bulan ramadhan tatkala Jibril menjumpai beliau.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

4.    Shalat lail/tarawih.

Dari Abu Hurairah  bahwa Nabi   bersabda:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا, غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang shalat (lail) pada bulan ramadhan karena iman dan mengharap pahala, akan diampuni seluruh dosanya yang telah berlalu.” (HR. Al-Bukhari no. 2009 dan Muslim no. 759)

Dan secara khusus pada lailatul qadr beliau bersabda, “Barangsiapa yang shalat (lail) pada lailatul qadr karena iman dan mengharap pahala, akan diampuni seluruh dosanya yang telah berlalu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dan dalam hadits yang shahih, Rasulullah   bersabda:

مَنْ صَلَّى مَعَ إِمَامِهِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ

“Barangsiapa yang shalat bersama imamnya sampai selesai, maka akan dituliskan baginya pahala shalat semalam suntuk.”

5.    Memperbanyak doa.

Dari Abu Hurairah  bahwa Nabi   bersabda:

ثَلاَثَةٌ لاَ يُرَدُّ دُعَاؤُهُمْ: إِمَامٌ عَادِلٌ, الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ, وَدُعَاءُ الْمَظْلُوْمِ …

“Ada tiga orang yang tidak akan ditolak doa mereka: Imam yang adil, orang yang berpuasa hingga dia berbuka dan doa orang yang terzhalimi … .” al-hadits. (HR. Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Syaikh Muqbil dalam Al-Jami’: 2/506)

6.    Menjaga lisan.

Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi   bersabda:

إِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلاَ يَرْفَثْ وَلاَ يَصْخَبْ. إِذَا شَاتَمَهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ

“Jika itu pada hari berpuasa salah seorang di antara kalian maka janganlah dia berbuat keji dan jangan pula berteriak. Jika ada seseorang yang mencelanya atau memukulnya maka hendaknya dia mengatakan: Sesungguhnya saya sedang berpuasa.”

 

Adapun macam-macam puasa sunnah beserta keutamaannya masing-masing yaitu:

  • Puasa enam hari di bulan Syawal, baik dilakukan secara berturutan ataupun tidak. Keutamaan puasa romadhon yang diiringi puasa Syawal ialah seperti orang yang berpuasa selama setahun (HR. Muslim).
  • Puasa sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, yang dimaksud adalah puasa di sembilan hari yang pertama dari bulan ini, tidak termasuk hari yang ke-10. Karena hari ke-10 adlah hari raya kurban dan diharomkan untuk berpuasa.
  • Puasa hari Arofah, yaitu puasa pada hari ke-9 bulan Dzuhijjah. Keutamaan: akan dihapuskan dosa-dosa pada tahun lalu dan dosa-dosa pada tahun yang akan datang (HR. Muslim). Yang dimaksud dengan dosa-dosa di sini adalah khusus untuk dosa-dosa kecil, karena dosa besar hanya bisa dihapus dengan jalan bertaubat.
  • Puasa Muharrom, yaitu puasa pada bulan Muharrom terutama pada hari Assyuro’. Keutamaannya adalah bahwa puasa di bulan ini adalah puasa yang paling utama setelah puasa bulan Romadhon (HR. Bukhori)
  • Puasa Assyuro’. Hari Assyuro’ adalah hari ke-10 dari bulan Muharrom. Nabi sholallohu ‘alaihi wasssalam memerintahkan umatnya untuk berpuasa pada hari Assyuro’ ini dan mengiringinya dengan puasa 1 hari sebelum atau sesudahnhya. Hal ini bertujuan untuk menyelisihi umat Yahudi dan Nasrani yang hanya berpuasa pada hari ke-10. Keutamaan: akan dihapus dosa-dosa (kecil) di tahun sebelumnya (HR. Muslim).
  • Puasa Sya’ban. Disunnahkan memperbanyak puasa pada bulan Sya’ban. Keutamaan: bulan ini adalah bulan di mana semua amal diangkat kepada Robb semesta alam (HR. An-Nasa’i & Abu Daud, hasan).
  • Puasa pada bulan Harom (bulan yang dihormati) yaitu bulan Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharrom, dan Rojab. Dianjurkan untuk memperbanyak amal ibadah pada bulan-bulan tersebut termasuk ibadah puasa.
  • Puasa Senin dan Kamis. Namun tidak ada kewajiban mengiringi puasa hari Senin dengan puasa hari Kamis atau sebaliknya. Keduanya merupakan hari di mana amal-amal hamba diangkat dan diperlihatkan kepada Alloh.
  • Puasa tiga hari setiap bulan. Disunnahkan untuk melakukannya pada hari-hari putih (Ayyaamul Bidh) yaitu tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan. Sehingga tidaklah benar anggapan sebagian orang yang menganggap bahwa puasa pada harai putih adalah puasa dengan hanya memakan nasi putih, telur putih, air putih, dsb.
  • Puasa Dawud, yaitu puasa sehari dan tidak puasa sehari. Keutamaannya adalah karena puasa ini adalah puasa yang paling disukai oleh Alloh (HR. Bukhori-Muslim).

 

  1. 1.        Hari-hari Disunnatkannya Puasa
    1. a.         Pada hari Arafah

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda :

“Puasa pada hari Arafah itu dapat menghapuskan dosa selama dua tahun, satu tahun yang lalu dan satu tahun yang akan dating. Adapun puasa Asyura’ dapat menghapuskan dosa selama satu tahun yang telah berlalu.” (HR. Muslim)

Hari Arafah jatuh pada tanggal Sembilan dari bulan Dzulhijjah. Tidak ada perbedaan pendapat mengenai hal ini. Dinamakan demikian, karena pada malam tarwiyah Ibrahim ‘Alaihissalam pernah diperintahkan di dalam tidurnya untuk menyembelih puteranya, Ismail. Sehingga pada hari itu ia menjadi bimbang, apakah mimpi tersebut merupakan perintah dari Allah atau hanya sekedar mimpi. Lalu pada malam berikutnya Ibrahim juga diperintahkan untuk hal yang sama di dalam tidurnya, sehingga ia pun ‘arafa (mengetahui, menyakini), bahwa perintah tersebut berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Untuk itu, disebutlah hari tersebut sebagai hari Arafah, yaitu hari yang sangat mulia dan memiliki keutamaan yang sangat besar.

Menurut mayoritas ulama, disunnatkan untuk berbuka (tidak berpuasa) pada hari Arafah, ketika seseorang berada di Arafah. Akan tetapi, Aisyah dan Ibnu Zubair menjalankan puasa pada hari itu, sedang keduanya tengah berada di padang Arafah.

Berkenaan dengan hal ini, Abu Qatadah berpendapat: “Bahwa hal itu boleh saja dilakukan, selama tidak menjadikan pelakunya merasa keberatan untuk berdo’a.” Sedangkan Atha’ berpendapat: “Aku berpuasa pada musim dingin dan tidak berpuasa pada musim panas. Adapun dimakruhkannya puasa pada hari itu lebih dikarenakan, bahwa puasa akan dapat menyebabkan pelakunya tidak sanggup untuk berdo’a.” Jika mampu, seorang muslimah boleh saja berpuasa pada hari itu di Arafah dan jika tidak mampu ia boleh berbuka. Telah diriwayatkan dari Ummul Fadhl binti Harits: “Bahwasanya ada beberapa orang berjalan di hadapannya pada hari Arafah. Mereka sedang membicarakan, apakah pada hari itu Rasulullah berpuasa atau tidak. Sebagian dari mereka mengatakan, bahwa beliau berpuasa dan sebagian lainnya mengatakan tidak. Kemudian aku mengirim satu mangkuk susu kepada Rasulullah yang pada saat itu tengah berada di atas untanya di Arafah, dan beliau meminumnya.”

Ibnu Umar pernah mengatakan: “Aku pernah menunaikan ibadah haji bersama Rasulullah dan beliau tidak berpuasa pada hari Arafah. Juga pernah bersama Abu Bakar, dimana ia juga tidak berpuasa. Demikian juga bersama Umar dan Utsman, yang kesemuanya juga tidak berpuasa pada hari itu. Untuk itu, aku tidak berpuasa pada hari itu dan tidak juga memerintahkan atau melarangnya.” (HR. Tirmidzi)

  1. b.        Pada hari Asyura’

Puasa hari Asyura’ pada bulan Muharram merupakan amalan yang disunnatkan. Puasa pada hari ini dapat menghapuskan dosa selama satu tahun sebelumnya. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam:

Aku memohon kepada Allah untuk menghapuskan dosa yang pernah aku perbuat pada satu tahun sebelumnya.” (HR. Muslim)

Sedangkan Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu menceritakan:

Rasulullah memerintahkan puasa pada hari Asyura’, yaitu tanggal sepuluh dari bulan Muharram.” (HR. Tirmidzi)

Bagi yang menghendaki, tidak ada larangan baginya untuk berpuasa dan jika tidak, maka boleh meninggalkannya. Sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadits yang menceritakan, bahwa Mu’awiyah pernah berkata; aku pernah mendengar Rasulullah bersabda:

Sesungguhnya pada hari Asyura’ ini Allah tidak mewajibkan kelian berpuasa. Barangsiapa menghendaki, maka diperbolehkan baginya berpuasa dan bagi siapa yang tidak menghendaki, maka ia boleh berbuka.” (HR. Thabrani)

  1. c.         Enam hari pada bulan Syawal

Selain itu, disunnatkan bagi wanita muslimah untuk berpuasa sunnat selama enam hari pada bulan Syawal. Hal ini didasarkan pada sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam:

Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan, lalu dilanjutkan dengan puasa enam hari pada bulan Syawal, maka nilainya seperti berpuasa sepanjang tahun.” (HR. Muslim, Abu Dawud dan At-Tirmidzi)

Puasa enam hari pada bulan Syawal ini boleh dikerjakan secara berturut-turut dan boleh juga berselang waktunya. Seperti berpuasa pada hari Senin dan Kamis saja setiap minggunya, sehingga berjumlah enam hari.

  1. d.        Limabelas hari pertama pada bulan Sya’ban

Dari Aisyah Radhiyallahu Anha, ia menceritakan:

“Aku tidak melihat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menyempurnakan puasa satu bulan penuh, selain pada bulan Ramadhan. Dan aku tidak melihat beliau pada bulan-bulan yang lain berpuasa lebih banyak dari bulan Sya’ban.” (Muttafaqun ‘Alaih)

  1. e.         Sepuluh Hari Pertama Pada Bulan Dzulhijjah

Puasa sepuluh hari pertama pada bulan Dzulhijjah merupakan amalan yang disunnatkan. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah:

“Tidak ada hari dimana amal shalih di dalamnya lebih dicintai oleh Allah Azza wa Jalla daripada hari-hari ini (sepuluh hari pertama dari bulan Dzulhijjah). Para sahabat bertanya; Wahai Rasulullah, tidak juga jihad fi sabilillah? Beliau menjawab: “Tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali seorang yang berangkat dengan membawa jiwa dan hartanya, lalu kembali tanpa membawa sedikit pun dari keduanya.” (HR. Bukhari)

Di samping itu, juga disunnatkan pada hari-hari mulia ini untuk bersungguh-sungguh beribadah. Karena, Allah Subhanahu wa Ta’ala melipatgandakan pahala padanya.

  1. f.          Berselang

Selain puasa-puasa di atas, disunnatkan juga puasa berselang yaitu satu hari berpuasa dan satu hari selanjutnya tidak. Hal ini sesuai dengan hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin Al-‘Ash, dimana Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah bersabda kepadanya:

Berpuasalah satu hari dan berbukalah satu hari berikutnya. Yang demikian itu merupakan puasa Nabi Dawud dan merupakan puasa yang baik. Kemudian aku berkata: Sesungguhnya aku mampu melakukan lebih dari itu. Maka Nabi pun menjawab: Tidak ada yang lebih baik dari itu.” (Muttafaqun ‘Alaih)

  1. g.         Pada bulan Muharram

Seperti diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, ia menceritakan; bahwa Rasulullah telah bersabda:

Sebaik-baik puasa setelah bulan Ramadhan adalah pada bulan Allah, yaitu Muharram.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Imam Tirmidzi mengatakan, bahwa hadits ini berstatus hasan shahih.

  1. h.        Senin Kamis       

Juga disunnatkan bagi wanita muslimah untuk berpuasa pada hari Senin dan Kamis. Hal ini sesuai dengan hadits yang diriwayatkan dari Usamah bin Zaid, dimana Rasulullah senantiasa berpuasa pada hari Senin dan Kamis. Beliau pernah ditanya oleh seseorang mengenai hal itu. Maka beliau pun menjawab:

“Sesungguhnya amal perbuatan manusia diangkat menuju Allah pada hari Senin dan Kamis.” (HR. Abu Dawud)

 

  1. i.           Pertengahan bulan Qamariyah

Tanggal 13, 14 dan 15 dari setiap bulan qamariyah (tahun Hijriyah) merupakan tanggal yang dikhususkan oleh Rasulullah untuk berpuasa sunnat. Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, ia menceritakan:

Rasulullah berpesan kepadaku tiga hal, yaitu; berpuasa tiga hari pada setiap bulannya, mengerjakan dua raka’at shalat Dhuha serta shalat witir sebelum tidur.” (Muttafaqun ‘Alaih).

Dari Abdullah bin Amr bin Al-‘Ash Radhiyallahu Anhu, ia berkata; bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah bersabda kepadanya:

Berpuasalah setiap bulannya tiga hari. Karena sesungguhnya kebaikan pada hari itu dihitung dengan sepuluh kelipatannya, yang nilainya sama seperti berpuasa sepanjang tahun.” (HR. Muttafaqun ‘Alaih)

Beliau juga bersabda kepada Abu Dzar Al-Ghiffari:

Wahai Abu Dzar, apabila engkau hendak berpuasa sunnat pada setiap bulannya, maka laksanakanlah pada tanggal tiga belas, empat belas dan lima belas.” (HR. Tirmidzi)

  1. 2.        Waktu-waktu Dimakruhkannya Berpuasa
    1. a.         Mengkhususkan Bulan Rajab Untuk Berpuasa

Berpuasa satu bulan penuh pada bulan Rajab merupakan amalan yang dimakruhkan. Akan tetepi, jika ada wanita muslimah yang hendak berpuasa pada bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa secara berselang. Karena, ini merupakan bulan yang diagungkan oleh orang-orang Jahiliyah. Sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Umar, bahwa apabila melihat orang-orang jahiliyah dan semua persiapan mereka untuk menyambut bulan Rajab, maka ia (Ibnu Umar) membencinya seraya berkata: “Berpuasa dan berbukalah pada bulan itu.” (HR. Ahmad)

  1. b.        Pada hari Jum’at saja

            Dimakruhkan bagi wanita muslimah berpuasa hanya pada hari Jum’at saja. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam:

“Sesungguhnya hari Jum’at itu merupakan hari raya bagi kalian. Karena itu, janganlah kalian berpuasa, kecuali apabila juga kalian berpuasa pada hari sebelum dan sesudahnya.” (HR. Al-Bazzar)

Sedangkan apabila wanita muslimah puasa berselang hari, dimana satu hari ia berpuasa dan hari berikutnya tidak, begitu seterusnya, lalu bertepatan pada hari Jum’at, maka puasanya pada hari itu tidak dimakruhkan.

  1. c.         Pada hari Sabtu saja

Selain hari Jum’at, mengkhususkan puasa pada hari sabtu saja juga dimakruhkan, kecuali jika diikuti berpuasa pada hari sebelum dan sesudahnya. Hal ini berdasarkan pada hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin Basar, dimana ia berkata: bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, bersabda:

“Janganlah kalian berpuasa pada hari Sabtu, kecuali yang diwajibkan atas kalian.” (HR. Tirmidzi)

  1. d.        Pada hari yang diragukan

Dimakruhkan bagi wanita muslimah berpuasa pada hari yang diragukan, yaitu hari ketiga puluh dari bulan Sya’ban. Hal ini sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam:

“Barangsiapa berpuasa pada hari yang diragukan, maka ia telah menentang Abul Qasim (Nabi Muhammad).” (HR. Bukhari)

  1. e.         Berpuasa khusus pada tahun baru dan hari besar orang kafir

Hendaklah wanita muslimah mengetahui, bahwa mengkhususkan puasa pada tahun baru atau pada hari-hari besar (hari raya) orang kafir itu dimakruhkan. Karena, hal itu merupakan hari-hari yang sangat diagungkan oleh orang-orang kafir. Sehingga mengkhususkan puasa padanya merupakan bentuk dari pengagungan.

  1. f.          Puasa Wishal

Puasa Wishal merupakan puasa yang dimakruhkan, yaitu puasa selama dua atau tiga hari tanpa berbuka. Menurut mayoritas ulama, puasa wishal itu hukumnya makruh. Hal ini didasarkan pada sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam:

“Janganlah kalian berpuasa wishal.” (HR. Bukhari)

Demikian juga dengan sabdanya:

“Hindarilah oleh kalian puasa wishal.” (Muttafaqun ‘Alaih)

Diriwayatkan dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhu, ia menceritakan:

“Rasulullah pernah puasa wishal pada bulan Ramadhan, lalu diikuti oleh para sahabatnya. Setelah itu, beliau melarang puasa wishal. Kemudian para sahabat bertanya: Bukankah engkau melaksanakan puasa wishal, wahai Rasulullah? Maka beliau menjawab: Sesungguhnya aku tidak seperti kalian, aku ini makan dan juga minum.” (Muttafaqun ‘Alaih)

Dalam hal ini menuntut adanya pengkhususan diri bagi Rasulullah terhadap masalah tersebut dan sekaligus larangan menghubungkannya dengan umat Islam, laki-laki maupun perempuan. Sabda Rasulullah “Aku ini makan dan juga minum” menerangkan kepada kita, bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala membantu beliau di dalam menjalankan puasa tersebut.

  1. g.         Puasa Dahr

Dimakruhkan bagi wanita muslimah mengerjakan puasa dahr, yaitu puasa yang dilakukan selama satu tahun penuh. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melalui sabdanya:

“Tidak dianggap berpuasa bagi orang yang berpuasa selamanya.” (HR. Muslim)

  1. h.        Puasanya seorang isteri tanpa seizing suami

Dimakruhkan bagi wanita muslimah yang berpuasa tanpa seizing suaminya, selain pada bulan Ramadhan, sedang pada saat itu suaminya tengah berada di sisinya. Hal ini sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah:

“Janganlah seorang wanita berpuasa pada suatu hari, ketika sang suami berada di sisinya, melainkan dengan izinnya. Kecuali pada bulan Ramadhan.” (Muttafaqun ‘Alaih)

  1. i.           Puasa dua hari terakhir dari bulan Sya’ban

Selain itu, juga dimakruhkan berpuasa pada dua hari terakhir dari bulan Sya’ban. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam:

“Janganlah salah seorang di antara kalian mendahului Ramadhan dengan puasa satu atau dua hari, kecuali bagi orang yang terbiasa melaksanakan puasa, maka boleh baginya berpuasa.” (Muttafaqun ‘Alaih)

Akan tetapi, diperbolehkan bagi wanita muslimah berpuasa pada kedua hari tersebut apabila ia melaksanakan puasa berselang hari atau untuk membayar hutang puasa yang gugur karena haid maupun sakit pada bulan Ramadhan yang lalu, dimana ia khawatir tidak dapat menjalankannya pada kesempatan yang lain.

  1. 3.        Waktu-waktu Diharamkannya Berpuasa
    1. a.         Pada hari raya ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adhha

Diharamkan bagi wanita muslimah berpuasa  pada hari raya ‘Idul Fitri maupun ‘Idul Adhha, baik itu untuk mengqadha’ puasa yang ditinggalkan, membayar kafarat maupun sebagai puasa sunnat. Hal ini didasarkan pada hadits yang diriwayatkan dari Abi Ubaid Maula Azhar, dimana ia bercerita:

“Aku pernah menghadiri shalat ‘Ied bersama Umar bin Khaththab, dimana ia datang dan mengerjakan shalat. Kemudian berkhutbah dengan menyampaikan pesan: Sesungguhnya pada kedua hari, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang untuk berpuasa. Yaitu, satu hari untuk berbuka dari puasa kalian dan satu hari yang lain lagi adalah waktu kalian makan dan berhenti dari mengerjakan manasik haji.” (Muttafaqun ‘Alaih)

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah melarang berpuasa pada dua hari saja, yaitu hari ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adhha.” (Muttafaqun ‘Alaih)

  1. b.        Pada hari-hari Tasyriq

Puasa pada hari-hari tasyriq juga diharamkan. Sebagaimana diriwayatkan dari Nabisyah Al-Hadzali, bahwa Rasulullah telah bersabda:

“Hari-hari tasyriq adalah hari untuk makan, minum dan berdzikir kepada Allah Azza wa Jalla.” (HR. Muslim)

Sedangkan dari Amr bin Al-‘Ash, ia meriwayatkan:

“Bahwa hari-hari tasyriq itu merupakan hari dimana Rasulullah memerintahkan kita untuk berbuka dan melarang kita berpuasa.”

  1. c.         Dibolehkannya berbuka bagi wanita yang sakit

Menurut ijma’ ulama, bagi wanita muslimah yang sedang sakit pada bulan Ramadhan, maka diperbolehkan baginya untuk berbuka. Hal ini didasarkan pada firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Barangsiapa di antara kalian ada yang sakit atau dalam perjalanan, lalu berbuka, maka wajiblah baginya mengganti puasan sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.” (Al-Baqarah: 184)

Orang sakit yang diperbolehkan untuk berbuka adalah yang sakitnya akan bertambah parah apabila berpuasa atau dikhawatirkan akan menghambat proses kesembuhannya.

Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya: “Bilamana orang yang sakit itu diperbolehkan berbuka? Imam Ahmad menjawab: Apabila tidak mampu untuk berpuasa. Lalu ditanyakan lagi: Apakah seperti pernyakit demam misalnya? Imam Ahmad menjawab: Juga semua penyakit yang lebih parah dari demam.” Dikisahkan dari sebagian ulama salaf, bahwa mereka membolehkan berbuka bagi orang yang terserang penyakit apapun juga, termasuk luka di jari-jari atau sakit gigi yang membuat orang tersebut tidak mampu untuk berpuasa.

  1. d.        Berbukanya seorang wanita yang berpuasa sunnat

Bagi wanita muslimah yang sedang berpuasa sunnat diperbolehkan untuk membatalkan puasa yang tengah dijalaninya. Hal ini didasarkan pada hadits yang diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu Anhu, dimana ia menceritakan:

“Aku pernah membuatkan makanan untuk Rasulullah ketika beliau datang bersama para sahabatnya ke rumah. Pada saat makanan itu disuguhkan, ada seorang sahabat berkata: Aku sedang berpuasa. Lalu Rasulullah berkata kepadanya: Saudara kalian ini telah mengundang dan akan menjamu kalian. Karenanya, batalkan puasamu dan berpuasalah pada hari lain untuk menggantinya, jika engkau menghendaki.” (HR. Baihaqi dengan isnad hasan)

Hadits ini memberikan keringanan untuk membatalkan puasa sunnat. Banyak dari para ulama yang memperbolehkan hal itu dan menganjurkan untuk mengganti puasanya pada hari yang lain.

Keutamaan Puasa

Keutamaan Puasa Sunnah

Dari Abu Said Al Khudri -radhiallahu anhu- dia berkata: Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- bersabda:

مَا مِنْ عَبْدٍ يَصُومُ يَوْمًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ إِلَّا بَاعَدَ اللَّهُ بِذَلِكَ الْيَوْمِ وَجْهَهُ عَنْ النَّارِ سَبْعِينَ خَرِيفًا

“Tidaklah seorang hamba berpuasa sehari di jalan Allah, kecuali Allah akan menjauhkan wajahnya dari api neraka sejauh tujuh puluh ribu musim.” (HR. Al-Bukhari no. 2628 dan Muslim no. 1153)

  1. Pahala yang Khusus

Abu Hurairah -radhiallahu anhu- berkata: Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- bersabda:

قَالَ اللَّهُ كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ وَإِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ

“Allah Ta’ala telah berfirman: “Setiap amal anak Adam adalah untuknya kecuali shaum, sesungguhnya shaum itu untuk Aku dan Aku sendiri yang akan memberi balasannya. Dan shaum itu adalah benteng (dari api neraka), maka apabila suatu hari seorang dari kalian sedang melaksanakan shaum, maka janganlah dia berkata rafats dan bertengkar sambil berteriak. Jika ada orang lain yang menghinanya atau mengajaknya berkelahi maka hendaklah dia mengatakan ‘Aku orang yang sedang shaum’. Dan demi Zat yang jiwa Muhammad berada di tanganNya, sungguh bau mulut orang yang sedang shaum lebih harum di sisi Allah Ta’ala dari pada harumnya minyak misik. Dan untuk orang yang shaum akan mendapatkan dua kegembiraan yang dia akan bergembira dengan keduanya: Apabila berbuka dia bergembira dan apabila berjumpa dengan Rabnya dia bergembira disebabkan ibadah shaumnya itu”. (HR. Al-Bukhari no. 1771 ).

  1. Bau Mulut Orang yang Berpuasa

“Bau mulut orang yang berpuasa kelak disisi Allah lebih wangi daripada wangi kesturi” (Al-Izz bin Abdussalam).

  1. Dua Kebahagiaan

Diantara keutamaan orang yang berpuasa berdasarkan hadist diatas adalah akan mendapatkan dua kebahagiaan. Dua kebahagiaan yang didapatkan oleh orang yang berpuasa karena ia berbuka sekaligus juga karena ia berpuasa.

“ Dan bagi orang yang berpuasa terdapat dua kebahagiaan, ketika ia berbuka maka ia bahagia dengannya, dan ketika ia bertemu dengan Rabb-Nya, ia berbahagia dengan puasanya”. (H.R. Bukhari Muslim).

  1. Pintu  Ar- Rayyan

Ar- Rayyan adalah salah satu nama dari pintu-pintu surga.

“  Sesunguhnya pada surga itu terdapat pintu yang dinamakan Ar-Rayyan. Pada hari kiamat orang-orang yagn berpuasa akan masuk dari-Nya, dan tidak selain mereka yang ikut masuk dari-Nya (pintu itu berkata: ‘Dimanakah orang- orang yang berpuasa?’ maka mereka masuk kepada-Nya, dan apabila telah masuk orang terakhir dari mereka) pintu itu akan tertutup selama-lamanya, dan tidak ada seorang pun y;ang bisa masuk.”(H.R. Bukhari )

  1. Malaikat pun Berdoa Baginya

“Sesungguhnya orang yang berpuasa didoakan oleh para malailkat, apabila makanannya dimakan (orang lain) dihadapannya hingga selesail atau sampai mereka kenyang.” (H.R. Tirmidzi)

Hikmah Puasa Sunah

  1. Tazkiyatun Nafs ( Penyujian jiwa)
  2. Tarbiyatu Ar-Ruh (peningkatan spiritual)
  3. Menundukan nafsu syahwat
  4. Meningkatkan rasa syukur
  5. Mendidik kemauan dan kesabaran
  6. Menanamkan kasih sayang
  7. Mengingatkan diri akan bahaya maksiat
  8. Mematahkan kecendrungan jiwa pada maksiat
  9. Jalan menuju taqwa

3 thoughts on “makalah puasa sunah : AYAT- AYAT AL-QUR’AN DAN AL HADIST PUASA SUNAH

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s